Penelitian terkini menunjukkan bahwa lebih dari 16 juta penduduk di Inggris dan Wales menghadapi risiko kematian akibat henti jantung karena jarak mereka dari defibrillator yang dapat diakses 24 jam melebihi satu kilometer perjalanan pulang pergi. Analisis data defibrillator publik oleh kampanye Heart Restart mengungkapkan bahwa 35 juta orang, atau lebih dari separuh populasi, tidak berada dalam jarak berjalan cepat tiga hingga lima menit yang direkomendasikan.
Dari kelompok tersebut, sekitar separuhnya bahkan berada lebih jauh dari defibrillator yang tersedia sepanjang waktu. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat lebih dari 40.000 kasus henti jantung di luar rumah sakit terjadi setiap tahun di Britania Raya, dengan tingkat kelangsungan hidup kurang dari satu dari sepuluh orang.
Intervensi dini melalui resusitasi jantung paru dan defibrilasi dapat meningkatkan peluang bertahan hidup lebih dari dua kali lipat. Keterbatasan akses perangkat ini berpotensi memperburuk hasil klinis pada kasus-kasus mendadak yang memerlukan tindakan segera.
Dampaknya terhadap sistem layanan kesehatan mencakup peningkatan ketergantungan pada tim ambulans yang mungkin tiba setelah periode kritis berlalu. Selain itu, kampanye Heart Restart menyoroti perlunya perluasan jaringan defibrillator publik yang terintegrasi dengan peta lokasi real-time agar masyarakat dapat merespons lebih cepat.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, kesenjangan akses ini juga mencerminkan ketidaksetaraan geografis, di mana wilayah pedesaan dan pinggiran kota cenderung lebih rentan dibandingkan pusat kota. Upaya untuk memperluas ketersediaan perangkat sekaligus mendorong pelatihan dasar resusitasi bagi warga menjadi langkah strategis yang dapat mengurangi angka kematian secara signifikan.








