Pendekatan Empati Bantu Penderita Hoarding Atasi Ketakutan Eviksi

Business4 Views

Banyak individu yang mengalami gangguan hoarding merasa enggan mencari bantuan karena khawatir akan kehilangan tempat tinggal mereka. Di Wirral, Inggris, sebuah asosiasi perumahan mengambil langkah berbeda dengan menawarkan dukungan yang lebih manusiawi kepada para penderitanya.

Tony, seorang warga Birkenhead, harus mandi di pusat rekreasi setempat setiap hari karena tuan tanahnya menolak memperbaiki kamar mandi akibat penumpukan barang yang berlebihan. Sementara itu, Sarah yang pernah kehilangan tempat tinggal bersama ketiga anak remajanya akibat pengusiran terkait hoarding, kini menghadapi masalah serupa di hunian barunya namun enggan meminta pertolongan.

Sian Cowley, yang telah bergulat dengan hoarding selama puluhan tahun, mengungkapkan bahwa banyak penderitanya hidup tanpa fasilitas dasar seperti pemanas sentral, air panas, dan alat masak. Ketakutan akan penggusuran membuat mereka menghindari memanggil teknisi untuk perbaikan.

Dari perspektif kesehatan, kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental melalui isolasi sosial yang berkepanjangan, tetapi juga meningkatkan risiko masalah fisik akibat lingkungan yang tidak higienis dan minim ventilasi. Pendekatan berbasis empati yang diterapkan asosiasi perumahan dapat menjadi model bagi layanan kesehatan komunitas untuk mengurangi stigma dan mendorong intervensi dini.

Selain itu, keberadaan kelompok dukungan sebaya memungkinkan pertukaran pengalaman yang membangun rasa aman, sehingga penderita lebih berani mengakui masalahnya tanpa rasa takut dihakimi. Hal ini penting karena hoarding sering kali berakar pada trauma atau gangguan kecemasan yang memerlukan penanganan holistik melibatkan konselor dan petugas perumahan.

Dengan demikian, upaya mengintegrasikan dukungan perumahan dan kesehatan mental menjadi krusial untuk mencegah siklus penggusuran yang memperburuk kondisi penderitanya.